Solusi Banjir Warga Citarum Dedi Mulyadi Resmikan Dan Lestarikan Rumah Panggung Adat Sunda

Rating:

Dedi Mulyadi Calon Wagub Jabar Resmikan Dan Lestarikan Rumah Panggung Adat Sunda Sebagai Solusi Banjir Warga Citarum

TRISAKTINEWS.COM, BANDUNG – Calon Wakil Gubenur Jawa Barat Dedi Mulyadi membangun rumah untuk keluarga dengan tujuh anak di Kecamatan Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung, Selasa (5/6/2018). Rumah yang berlokasi di gang sempit di daerah permukiman langganan banjir itu sebelumnya ambruk karena sudah lapuk. “Ini rumah yang waktu itu sudah miring dan ambruk milik keluarga Mak Entin.

Raut kegembiraan terlihat di wajah Hardiyono (56) dan Entin (52). Pasangan suami-istri asal Kabupaten Bandung tersebut kini memiliki rumah bebas banjir. Rumah tersebut berlokasi di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, kawasan yang jadi langganan banjir.

Bedah Rumah Ala Calon Wagub Jabar Dedi Mulyadi Atasi Banjir Warga Citarum

Awalnya, calon wakil gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hadir di desa tersebut pada Mei 2018 lalu. Dia menghadiri undangan salah seorang warga pegiat lingkungan di sepanjang bantaran Sungai Citarum.

Usai menanam pohon, Dedi Mulyadi melihat rumah yang dihuni 7 orang. Selain kumuh, rumah itu juga sering dilanda banjir karena berlokasi tepat di bibir terpanjang di Jawa Barat itu. Hardiyono dan Entin mengeluhkan kondisi rumah tersebut.

Dedi Mulyadi Bersama Warga Resmikan Dan Lestarikan Rumah Panggung Adat Sunda

Saat itu, Dedi Mulyadi mengajak warga sekitar untuk merobohkan rumah itu dan merenovasinya kembali. Desain rumah itu kini berubah menjadi rumah berjenis panggung dengan arsitektur julang ngapak.

“Selain Sungai Citarum ini kami tata nanti, rumah dengan desain seperti ini pun kami terapkan di seluruh bantaran sungai. Nanti terbentang dari Kabupaten Bandung sampai Bekasi. Saat banjir, masyarakat aman,” kata Dedi Mulyadi, Selasa 5 Juni 2018.

Jika banjir parah terjadi, Dedi Mulyadi memberi gagasan tentang jalur evakuasi. Secara teknis, gang di kawasan rawan banjir harus diperlebar agar memudahkan proses tersebut. “Warga harus leluasa untuk keluar dari wilayah banjir. Karena itu, harus kita buat jalurnya, gang di wilayah ini harus lebar,” ujarnya.

Sementara itu, tak banyak yang disampaikan oleh Entin (52), sang pemilik rumah. Dia nyaris tidak bisa berkata-kata karena rumah kumuhnya kini layak huni dan berdesain unik. “Tak bisa berkata-kata, terima kasih sekali, maaf saya tidak bisa membalas apa-apa,” katanya. Terkait pembangunan satu rumah panggung, Dedi Mulyadi mengatakan biaya yang diperlukan sangat murah yakni berkisar antara Rp 20-30 juta.

Biaya renovasi rumah milik Hardiyono dan Entin berasal dari patungan warga dan sumbangan pribadi kolega Dedi Mulyadi. “Jadi, kemarin itu saya ada ide, ini warga yang kerjakan. Kalau diperkirakan satu rumah itu bisa habis sekitar Rp 20 Juta,” katanya.

Selain murah, rumah panggung pun menurut kader Nahdlatul Ulama itu memiliki fungsi selain untuk hunian. Bagian bawah rumah tersebut bisa digunakan untuk ternak. “Multifungsi lho, kolong rumahnya kan bisa untuk ternak sehingga kebutuhan daging masyarakat nanti (terpenuhi). Tidak usah ke pasar, tinggal potong saja,” ucapnya.

Sekarang alhamdulillah sudah selesai dibangun dengan konsep rumah bebas dari banjir. Ini akan menjadi rumah percontohan anti-banjir di Jawa Barat,” jelas Dedi seusai melihat langsung pembangunan rumah anti-banjir bersama warga setempat. Pembangunan ini dilaksanakan oleh koleganya yang berada di Dayeuh Kolot.

Rumah anti-banjir ini berbentuk panggung dengan tinggi tiga meter. Terdapat ruang kosong di bawah rumah dan bisa dimanfaatkan untuk beternak ayam atau domba jika tidak banjir. “Di kemudian hari kampung ini bisa menjadi penghasil swasembada ayam dan domba,” kata Dedi.

Dedi mengatakan, setiap rumah di pinggir Sungai Citarum nantinya akan ditata sehingga jaraknya tidak terlalu berhimpitan. Hal itu dilakukan untuk memberi akses perahu bantuan ke gang-gang sempit jika terjadi banjir. “Alhamdulillah setelah mengetahui rumahnya seperti ini, warga tadi pada mau dibuatkan rumahnya seperti ini,” kata Dedi.

Rumah tersebut dibangun dengan konsep anti-banjir karena berada di daerah langganan banjir. Sebelumnya, Dedi mencari koleganya yang bersedia langsung memperbaiki rumah keluarga tujuh anak itu setelah dirobohkan. Rumah keluarga ini sebelumnya sudah ambruk dan masih ditinggali keluarga miskin itu karena tak ada pilihan lain. “Di rumah sempit ini anaknya ada tujuh orang dan awalnya dirobohkan untuk diperbaiki. Saya sekarang kembali lagi untuk meresmikan rumah percontohan tanpa banjir di Bandung,” kata Dedi.

Dedi seusai melihat langsung pembangunan rumah anti-banjir bersama warga setempat

Dengan demikian, kawasan sepanjang Citarum akan dijaga dengan adat kebiasaan Sunda yang selalu menjaga sungai dan lingkungannya. Dengan demikian, warga di kawasan banjir nantinya akan terbebas setiap memasuki musim hujan. “Jadi nantinya Sungai Citarum akan terus terjaga kelestariannya dan dijaga oleh adat,” pungkas Dedi.

Sementara itu, Entin dan keluarganya hanya terlihat menangis saat didatangi kembali oleh Dedi Mulyadi. “Saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Terima kasih,” ucap Entin. Badega di Sungai Citarum Selain penataan rumah anti-banjir di kawasan Citarum, Dedi berencana merekrut para Badega atau penjaga sungai di setiap beberapa kilometer sepanjang Sungai Citarum. “Seorang Badega ini adalah petugas penjaga sepanjang Sungai Citarum, yang memelihara pepohonan dan kebersihan sungai. Nanti para Badega akan digaji sesuai standar kelayakan,” ujarnya. (RED)

Tags:
author

Author: 

Biarlah Sejarah Membaca dan Menjawabnya