Heboh Grup Gay SMP/SMA di Facebook, Berikut Fakta-fakta dan Reaksi Ridwan Kamil 01 Jabar

Rating:

Ilustrasi Group Facebook.

Heboh Grup Gay SMP/SMA di Facebook, Berikut Fakta-fakta, Tindakan Polisi dan Reaksi Dinas Pendidikan Garut.

TRISAKTINEWS.COM, GARUT – Dilansir dari Tribun-timur.com, dunia maya dihebohkan dengan viralnya grup Facebook di Garut, Jawa Barat, beranggotakan komunitas gay.

Bahkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga bereaksi.

Tribun-timur.com Melansir tribunjabar.id, grup gay Facebook di Garut ini membuat warga terutama orangtua menjadi resah.

Bahkan satu di antara empat grup gay di Facebook dikhususkan bagi siswa SMP dan SMA.

Berdasarkan penelusuran Tribun Jabar, ada empat grup gay di Facebook.

Dua di antaranya memiliki anggota lebih dari 2.500 orang.

Pertama grup dengan nama kumpulan barudak gay SMP/SMA Garut, lalu ada dua grup dengan nama gay Garut di beberapa kecamatan, dan terakhir ada akun dengan nama gay Garut.

Dilihat pada Selasa (9/10/2018), grup kumpulan barudak gay SMP/SMA masih aktif.

Bahkan beberapa dari anggota tersebut sudah mengetahui grup tersebut sudah viral dan disoroti oleh publik.

Beberapa di antara mereka menyarankan agar lebih memilih anggota yang dimasukkan dalam grup.

Mereka juga meminta agar grup dibuat tertutup dan hanya orang tertentu yang dapat mengakses.

“Awas hati” grup ieu nju viral..

Para anggota terpantau menggunakan grup tersebut untuk mencari pasangan atau mengajak berhubungan badan.

Beberapa orangtua merasa khawatir dengan adanya grup gay tersebut karena menyasar siswa SMP/SMA.

Seorang ibu, Rini Sumarni (37), warga Perum Mandala, Kecamatan Garut Kota, tak menduga ada grup gay khusus untuk siswa SMP dan SMA.

Ia khawatir anaknya yang masih duduk di bangku SMP terbawa pergaulan seperti itu.

“Anak saya cowok kelas 2 SMP. Saya jadi parno (ketakutan) karena ada grup itu. Di grup WA (WhatsApp) teman kerja sama di grup Perum sudah nyebar infonya,: kata Rini saat ditemui di Perum Mandala, Garut, Minggu (7/10/18).

Menurut Rini, keberadaan grup tersebut dapat merusak moral.

Rini juga sempat memeriksa isi dan percakapan grup tersebut.
“Saya jijik baca chat laki-laki di grup itu. Mereka bebas cari pasangan sesama jenis. Apalagi suka ada yang cari mangsa baru dengan kirim foto lelaki,” katanya.

Selain Rini, Somantri (50) mengaku sangat resah sebagai orangtua.

Warga Desa Tarogong, Kecamatan Taragong Kidul itu mengatakan informasi mengenai gay dan lesbian di Garut sudah lama beredar.

Menurutnya, pemerintah tidak melakukan langkah konkret untuk mengatasi hal tersebut.

“Harusnya pemerintah bisa bergerak cepat. Kalau didiamkan, bisa saja lelaki atau wanita normal malah jadi gay dan lesbian karena pergaulan,” katanya.

Bahjan, Somantri mengatakan ada sejumlah kafe di wilayah perkotaan Garut sering digunakan sebagai tempat berkumpul para gay.

“Jangan dibiarkan masalah ini. Nanti bisa jadi penyakit. Hubungan sesama jenis juga bisa menyebabkan HIV,” ucapnya.

Polisi Bertindak

Melansir dari Kompas.com, Kapolres Garut AKBPT Budi Satria Wiguna mengaku sudah menerima informasi mengenai grup Facebook gay siswa SMP/SMA.

Pihaknya tengah melakukan penyelidikan untuk mencari orang-orang di balik grup tersebut.

“Iya (sudah tahu), kami lagi penyelidikan, pasti kami selidiki ini,” katanya saat ditemui di Cafe Lasminingrat, Jalan Pedes, Kelurahan Pataruman, jumat (5/10/2018).

Ditemui di tempat yang sama, Dandim 0611 Garut Letkol INF Asyraf Aziz ikut buka suara.

Ia mengatakan tengah memantau aktivitas grup tersebut.

Letkol INF Asyraf Aziz mengaku telah melihat dan mendalami grup Facebook itu.

Ia juga melihat langsung unggahan-unggahan dari para anggotanya.

Menurut Asyraf, isi grup Facebook tersebut sangat menjijikan.

Ketua Garut Education Watch, Soni MS mengaku prihatin atas fenomena itu.

Mengingat, jumlah anggota di grup tersebut sudah mencapai 2500 orang lebih.

Soni mengingatakan agar peran guru BP di setiap sekolah lebih ditingkatkan.

Guru BP berperan aktif memantau perkembangan psikologi siswa di sekolah.

Soni juga mengatakan guru BP dapat memantau apakah ada siswanya yang jadi bagian dari grup tersebut.

Guru BP berperan aktif memantau perkembangan psikologi siswa di sekolah.

Soni juga mengatakan guru BP dapat memantau apakah ada siswanya yang jadi bagian dari grup tersebut.

“Jelas prihatin, palagi melihat anggota grup ini ternyata cukup banyak juga,” katanya.

Soni mengatakan fenomena munculnya grup Facebook gay itu menjadi tanggung jawab semua pihak mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, ulama dan semua elemen masyarakat.

Menurut Soni, semua elemen tersebut harus berperan aktif dalam menanggulangi fenomena tersebut.

“Meski nama grupnya menyangkut-nyangkut SMP dan SMA, tapi ini jadi tanggung jawab semua bukan hanya Disdik,” ucapnya.

Reaksi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengaku prihatin dengan adanya grup penyuka sesama jenis di media sosial Facebook yang anggotanya diduga pelajar SMP/SMA asal Kabupaten Garut.

Ridwan Kamil akan segera menghubungi Bupati Rudy Gunawan untuk memetakan permasalahannya.

“Ya saya mau kontak Bupati Garut dulu. (Saya akan) memetakan dulu masalahnya,” katanya kepada wartawan di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (9/10/2018).

Saat ini, Ridwan Kamil mengaku tak bisa berkomentar banyak lantaran belum mengetahui secara detil permasalahnnya.

Kendati demikian, dia berjanji akan memberantasnya.

Apalagi, kata Ridwan Kamil, anggotanya diduga merupakan pelajar SMP/SMA.

“Tapi saya komit (berkomitmen), kita untuk memberantas hal begitu apalagi di level usia pelajar. Saya belum ada data dan baru baca di (berita) online. Mohon izin saya belum bisa komentar banyak, ini mau kontak bupati Garut,” ujarnya.

Setelah mendapatkan data dan detil permasalahannya, Ridwan Kamil mengaku akan memberi kabar rencana dan tindakannya.

“Setelah itu (datanya) ada baru saya kabarin rencana tindakannya,” ujarnya.

Seperti diketahui, warga Garut digegerkan dengan beredarnya grup gay terutama bagi siswa SMP dan SMA.

Tak tanggung-tanggung, anggota grup tersebut mencapai 2500 lebih.(*)

Sumber : Tribun-timur.com

Tags:
author

Author: 

Biarlah Sejarah Membaca dan Menjawabnya