Tak Terima Persib Dihukum PSSI, Ribuan Bobotoh Demo Di Gedung Sate

Rating:

Bobotoh demo di Gedung Sate. ©2018 Merdeka.com

TRISAKTINEWS.COM, BANDUNG – Ribuan Bobotoh Persib Bandung dari berbagai wilayah demonstrasi di depan Gedung Sate. Hal itu sebagai bentuk perlawanan terhadap Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang kebijakannya dianggap tidak bisa menyelesaikan masalah persepakbolaan.

Dari pantauan, banyaknya jumlah Bobotoh yang turut dalam aksi membuat arus lalu lintas tersendat. Pihak kemananan terpaksa melakukan rekayasa arus lalu lintas dengan menutup Jalan Diponegoro, Kota Bandung.

Massa yang didominasi mengenakan baju biru itu menyertakan spanduk berisi kritik keras kepada para pejabat PSSI. Tidak hanya itu, berbagai teriakan bernada kecaman bagi PSSI pun keluar dari mulut para Bobotoh.

Diketahui, insiden pengeroyokan suporter Persija Jakarta Haringga Sirla hingga tewas, 23 September 2018 lalu membuat PSSI akhirnya memutuskan hukuman kepada Persib Bandung, berupa sanksi pertandingan kandang di luar Pulau Jawa (Kalimantan) tanpa penonton sampai akhir musim kompetisi 2018, dan pertandingan kandang tanpa penonton di Bandung sampai setengah musim kompetisi tahun 2019.

Tak hanya klub, PSSI juga menghukum Bobotoh julukan untuk suporter Persib berupa larangan menyaksikan pertandingan Persib Bandung saat kandang maupun tandang, serta pertandingan Liga 1 lainnya sejak putusan ditetapkan sampai pada setengah musim kompetisi 2019.

PSSI juga menjatuhkan sanksi untuk panitia penyelenggara pertandingan. Tak terkecuali, panitia pelaksana pertandingan dan security officer yakni berupa larangan ikut serta dalam kepanitiaan pertandingan Persib Bandung selama 2 (dua) tahun.

Panpel Persib Bandung juga didenda sebesar Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah). Panpel Persib wajib memerangi dan melarang rasisme dan tulisan provokasi serta slogan yang menghina pada spanduk, poster, baju dan atribut lainnya dengan cara apapun.

Ketua Viking Persib Club Heru Joko menjelaskan bahwa aksi tersebut bukan berarti pihaknya anti terhadap hukuman. Hanya saja, keputusan yang diambil tidak membuat pengaruh signifikan terhadap persepakbolaan Indonesia dan dianggap tebang pilih.

“Kami datang ke sini masih sebagian, kami datang atas dasar kekecewaan. Kami melihat PSSI sangat tidak adil kepada Persib dan suporter Persib. Kami kecewa dan sangat kecewa dengan Kondisi (Komisi Disiplin) PSSI,” tegasnya.

“Mereka memandang kita sebelah mata, saya rasa mereka mempunyai azas keadilan karena kita sama, semua harus diperlakukan adil,” tegasnya.

Ada sejumlah tuntutan dan pemikiran yang disuarakan dalam aksinya ini. Hukuman yang diberikan kepada Persib lebih berat dari sanksi pengurangan poin dari segala aspek.

Pada dasarnya, Bobotoh menerima sanksi asalkan konteksnya untuk melakukan koreksi total dan perbaikan menyeluruh terkait kekerasan dalam sepakbola.

PSSI hanya menghukum saja, tanpa pernyataan resmi yang jelas bahwa hukuman serupa akan berlaku kepada seluruh peserta kompetisi untuk musim selanjutnya. Apalagi, dalam pengambilan keputusan, PSSI tidak memanggil seluruh perwakilan klub untuk menyosialisasikan sanksi.

“Kami menuntut PSSI serius menjelaskan solusi dan langkah konkret secara detail dalam hal mengatasi permasalahn kekerasan suporter. Karena ini terjadi bertahun-tahun. Ada andil juga dari PSSI mengapa ini terjadi. Jadi tidak bisa dong PSSI lepas tangan begitu saja menyalahkan pada suporter dan klub,” jelasnya.

Hal lain yang menjadi polemik adalah rangkap jabatan pengurus PSSI dan klub. Pasalnya hal tersebut membuat hubungan antar supporter selalu panas dan penuh kecurigaan ketika ada hukuman yang dijatuhkan kepada klub.

Terakhir, Bobotoh meminta manajemen Persib Bandung terus melakukan langkah dan upaya banding terkait hukuman yang diberikan, tanpa mengurangi rasa hormat dan penyesalan kepada keluarga korban.

“Bobotoh semua jangan terprovokasi dengan melontarkan ujaran kebencian yang bisa memperkeruh suasana. Semuanya harus memperbaiki diri, jangan sampai hubungan antar suporter terus meruncing,” pungkasnya.

Sumber : Merdeka.com

Tags:
author

Author: 

Biarlah Sejarah Membaca dan Menjawabnya